Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan

Nagari Ampang Gadang & Banjir Marapi

Pict: Spab kemdikbud[/caption]

CTS 126: BERCERITA TENTANG NAGARI AMPANG GADANG DAN MITIGASI BENCANA BANJIR BANDANG DI KECAMATAN AMPEK ANGKEK, AGAM

FB Saiful Guci Dt. Rajo Sampono | Sambil menyalami para pengunjung Pemandian Kasiah Bundo, kami menyapa sekelompok yang sedang memperhatikan anak-anaknya sedang mandi “Dari mana tuan & rangkayo sanak ambo datang ko?” sapa saya.

“Kami dari Nagari Ampang Gadang , Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam. Pernah tuan pergi ke nagari kami “ ujar mereka.

“Ada kawan facebook kami, namanya Marliyus Laili tinggal di Duri, katanya orang tempat penghasil tengkelak, apakah ada yang kenal ?” tanya saya.

PAWANG HUJAN ataukah PAWANG ANGIN atau PAWANG AWAN.?

Disalin dari kiriman FB Sutan bandaro Sati 

Di Minangkabau jaman dulu sebelum Islam tidak ada istilah 'pawang hujan'. Yang ada adalah 'TUKANG AMBUIH AWAN'..., bukan 'pawang hujan'. 'Ambuih' artinya 'tiup', 'meniup dengan mulut'.


Ilmu kuno orang Minang jaman dulu bukan ilmu menghentikan hujan, melainkan ilmu memindahkan awan hitam. Menghentikan air hujan itu mustahil karena turunnya air hujan adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Hanya Allah yang berkuasa menghentikan hujan. Tapi memindahkan awan hitam bukanlah mustahil karena Allah juga memberi ANGIN untuk kebaikan manusia.Dan manusia diberi akal budi bagi yang mampu memanfaatkan angin untuk mendorong awan hitam berpindah ke tempat lain.

Ketika Gaya Balai Masuk Surau & Kampus

Emeraldy: Gaya Balai Masuk Surau dan Kampus


“Tidak akan ada seorang niniak mamak bercarut-carut meskipun dia sedang di pasar,”



bakaba.co | Dalam masyarakat berkebudayaan Minangkabau ada dua gaya atau langgam bahasa komunikasi utama: Gaya atau langgam surau dan langgam balai. Kedua gaya ini berbeda.